Tentang Tata Ruang Sumatera

Dear all
Blog ini merupakan Kumpulan Persoalan2 yang terkait dengan penataan ruang pulau sumatera, Jika ada yang tertarik berkontibusi untuk menjadi penulis silahkan kirimkan email ke tataruang.sumatera@yahoo.co.id. Sementara ini lagi dilakukan posting secara berkala berdasarkan arsip beberapa mailing list lingkungan yang terkait dengan konflik penataan ruang.
Tampilkan postingan dengan label Kawasan Rawan Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawasan Rawan Bencana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2011

Laporan Investigasi Banjir Bandang Samosir (Sumatra Utara)

Laporan Investigasi
Banjir Bandang Desa Sabulan dan Desa Buntu Mauli-Ransang Bosi
Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir, 29 April 2010
Disiapkan oleh:
Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Parapat
Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Medan
Gereja Katolik Paroki Santo Fransiskus Asisi, Palipi, Samosir

Senin, 31 Januari 2011

Kebakaran di Konsesi APP/Sinar Mas Memperparah Kabut Asap Regional dan Mengancam Cagar Biosfir PBB yang Baru

Siaran Pers Untuk segera dirilis                              27 Juli 2009

Kebakaran di Konsesi APP/Sinar Mas Memperparah Kabut Asap Regional dan Mengancam Cagar Biosfir PBB yang Baru

Pekanbaru - Data satelit selama enam bulan perama di tahun 2009 menunjukkan bahwa Provinsi Riau memiliki jumlah titik api kebakaran terbanyak di Indonesia, yakni 4.782. Dari jumlah tersebut hampir seperempatnya berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Riau yang terjadi di dalam konsesi-konsesi yang terkait dengan perusahaan Asia Pulp & Paper milik Sinar Mas Group. Jumlah ini lebih banyak daripada jumlah titik api di dalam konsesi-konsesi perusahaan tunggal lainnya, demikian temuan analisa koalisi LSM Eyes on the Forest.

Kabut Asap, Jarak Pandang Hanya 500 Meter

PEKANBARU (RP) - Provinsi Riau kembali diselimuti kabut asap tebal, bahkan dengan jarak pandang hanya 500 meter pada Jumat (17/7) pukul 07.00 WIB. Dan kondisi jarak pandang mulai membaik pada siang harinya.

Dari monitoring satelit NOAA 18 yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, sedikitnya dua daerah kabupaten di Riau terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Rokan Hilir terdapat empat titik api dan Indragiri Hulu satu titik. Sementara untuk jumlah titik api secara keseluruhan di Sumatera berjumlah 14 titik.

Minggu, 30 Januari 2011

RI Prioritaskan Penyelamatan 92 Pulau Terluar

Jakarta, (tvOne)
Pemerintah memprioritaskan penyelamatan kemungkinan hilangnya 92 pulau terluar dari ancaman kenaikan muka air laut akibat pemanasan global.
"Kalau untuk pulau-pulau terluar ada penanganan khusus. Jadi batas perairan kita tidak akan berubah karena perubahan iklim," kata Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Rata PenuhDepartemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Syamsul Maarif, di Jakarta, Senin (4/5/2009).
Ia mengatakan pemerintah akan berusaha keras mempertahankan 92 pulau terluar tersebut untuk mencegah bergesernya wilayah NKRI serta zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.

Greenpeace Mendukung Penolakan Masyarakat Teluk Meranti Terhadap Operasi PT RAPP dan Mendesak Pemerintah Untuk Bertindak Benar, Siaran Berita Greenpeace, 8 Januari 2010

Greenpeace Mendukung Penolakan Masyarakat Teluk Meranti Terhadap Operasi PT RAPP dan Mendesak Pemerintah Untuk Bertindak Benar

8 Januari 2010, Jakarta - Greenpeace hari ini mendukung pernyataan sikap masyarakat Teluk Meranti dan desa-desa sekitar yang secara tegas menolak dilanjutkannya penghancuran hutan semenjung kampar oleh PT. RAPP. Greenpeace mendesak Pemerintah memenuhi janjinya untuk mengevaluasi perizinan PT RAPP dan meminta RAPP untuk menunjukkan komitmen lingkungan dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat di Semenanjung Kampar.

Pulau Rangsang Terancam Tenggelam Akibat Pembukaan HTI PT SRL

Chaidir Anwar Tanjung – detikNews


Pekanbaru - Pulau Rangsang di Kabupaten Bengkalis, Riau, terancam tenggelam akibat pembukaan areal konsesi Hutan Tanaman Indusrti (HTI) PT Sumatera Riang Lestari (SRL). Sebab pulau yang berada di Selat Malaka itu merupakan kawasan bergambut.

Hal itu disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Hariansyah Usman dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (26/12/2009) di Pekanbaru.