Minggu, 14 Maret 2010 | 03:08 WIB
Banyuasin, Kompas - Para pembuat perahu berbagai jenis di tepi Sungai Musi di Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengeluhkan sulitnya mencari bahan baku berupa kayu bungur dan meranti. Ketidakpastian adanya bahan baku itu mengancam kelangsungan industri pembuatan perahu yang menghidupi ribuan masyarakat di sana.
Banyuasin, Kompas - Para pembuat perahu berbagai jenis di tepi Sungai Musi di Kabupaten Ogan Ilir dan Kota Palembang, Sumatera Selatan, mengeluhkan sulitnya mencari bahan baku berupa kayu bungur dan meranti. Ketidakpastian adanya bahan baku itu mengancam kelangsungan industri pembuatan perahu yang menghidupi ribuan masyarakat di sana.
Pembuat perahu motor asal Desa Kemang Bejalu, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sihafuddin (51), yang ditemui tim Jelajah Musi 2010—dalam perjalanan menyusuri Sungai Musi dari Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, hingga Benteng Kuto Besak di Palembang, Sabtu (13/3)—mengatakan, pasokan kayu bungur (Lagerstroemia speciosa pers) hanya mengandalkan perkebunan-perkebunan warga Sekayu, Musi Banyuasin. Sekayu saat ini merupakan satu-satunya daerah di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Musi yang warganya masih menanam kayu bungur.